Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Jul 18, 2012

SIAP SEKOLAH

Topik ini ternyata masih menarik. Sebagian orang berpikir bahwa siap masuk sekolah itu berarti siap mempelajari bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan. Ini pemikiran yang baik, namun tidak hanya itu yang diperlukan seorang anak. Seingat saya, dulu waktu orang tua saya masih kecil, mereka dites dengan cara melingkarkan tangan kanan di atas kepala. 

Indonesia

All of life is a coming home. Salesman, secretaries,....all of us. All the restless hearts
of the world, all trying to find a way home.
(Patch Adams)

Dec 6, 2010

Kapan Perlu Psikotes? (2)

Beberapa kali saya mendapat telepon atau kunjungan dari orangtua yang intinya menginginkan agar anaknya dites. Alasannya beraneka ragam, mulai dari sekedar keinginan untuk mengetahui tingkat kecerdasan, atau alasan agar anak bersedia datang ke ruang konsultasi, karena ada permasalahan lain yang lebih serius.Untuk dapat memenuhi keinginan orangtua tersebut, sebelumnya diperlukan proses panjang untuk mengevaluasi persoalan dan kebutuhan yang sesungguhnya. Prosesnya dimulai dari wawancara dengan orangtua, wawancara dengan anak atau observasi (jika anak masih terlalu kecil), psikotes, dan terkadang juga dibutuhkan observasi di sekolah atau di rumah. Baru dari semua data tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan mengenai permasalahan yang sesungguhnya, dan memberikan saran untuk langkah-langkah penanganannya.
Dalam hal ini, psikotes sering diperlukan sebagai alat yang dapat memberikan data penting mengenai tingkat kecerdasan, aspek-aspek kecerdasan, minat, bakat, maupun kepribadian seseorang. Psikotes sudah melalui proses standarisasi, sehingga dapat memberikan hasil yang dapat dipercaya.
Namun demikian, ada kalanya psikotes tidak sesuai untuk diberikan. Hal ini biasanya terjadi ketika anak masih terlalu kecil, atau memiliki keterbatasan fisik tertentu seperti lumpuh, bisu, tuli, atau buta. Dalam hal ini, psikotes dilakukan dengan menggunakan tes yang khusus dirancang untuk mengatasi keterbatasan tersebut, atau dapat diganti dengan observasi terstruktur.

Rudangta Arianti Sembiring, M.Psi

Kapan Perlu Psikotes? (1)

Mungkin banyak dari antara kita yang sudah pernah mengikuti psikotes. Mungkin ketika di sekolah dulu, atau ketika melamar pekerjaan. Ya, memang, pada umumnya psikotes dilaksanakan untuk kepentingan penjurusan dan seleksi calon karyawan. Di samping itu, ada juga yang mengikuti psikotes hanya karena sekedar ingin mengetahui tingkat kecerdasan atau yang biasa disebut dengan IQ (intelligence quotient).Namun demikian, mungkin banyak yang bertanya-tanya, kapan saat yang tepat untuk menggunakan psikotes?
Pada dasarnya psikotes merupakan alat bantu untuk mengenal karakteristik seseorang dengan cepat. Saat psikotes, psikolog menggunakan alat-alat tes yang telah teruji keandalan dan kevalidannya untuk menjaring sampel perilaku. Berdasarkan sampel tersebut, psikolog dapat menentukan taraf kecerdasan, bakat, minat, dan kepribadian seseorang. Psikolog juga dapat memprediksi perilaku sehari-hari, maupun perilaku yang akan muncul dalam situasi tertentu, misalnya dalam situasi yang menekan. Data tersebut kemudian dapat diolah sesuai dengan tujuannya.
Untuk tujuan penjurusan, psikolog kemudian mengevaluasi kecocokan karakteristik orang tersebut dengan karakteristik jurusan-jurusan yang ada di sekolah. Untuk kepentingan seleksi calon karyawan, psikolog kemudian akan mengevaluasi kesesuaian karakteristik pelamar dengan karakteristik pekerjaan dan perusahaannya. Misalnya saja untuk seleksi calon sales, salah satu aspek yang dievaluasi adalah keterampilan sosial. Namun demikian, tentu saja akan ada perbedaan keterampilan sosial yang dibutuhkan di antara sales perusahaan perbankan dengan sales di perusahaan konstruksi bangunan.
Agar psikolog dapat membuat evaluasi yang tepat, diperlukan kecermatan dalam memilih alat tes. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan ragam alat tes di dunia, sehingga keputusan untuk memilih alat mana yang akan dipakai, didasarkan pada kemampuan suatu alat tes untuk memberikan data yang diperlukan agar tujuan penyelenggaraan psikotes tercapai. Oleh karena itu, mengetahui tujuan penyelenggaraan psikotes merupakan hal yang amat penting.Melihat proses kerja seorang psikolog seperti yang diuraikan di atas, tentunya kurang bijak jika kita memaksa seseorang untuk mengikuti psikotes hanya karena ingin memuaskan rasa ingin tahu mengenai IQ atau kepribadiannya saja. Pilihan untuk menggunakan psikotes sebaiknya didasarkan atas niat tulus untuk memanfaatkan data tersebut guna kepentingan yang lebih luhur.

oleh: Rudangta Arianti S., Psikolog

Oct 15, 2010

TRUST


Belakangan ini saya mencermati beberapa kejadian yang membuat saya berpikir mengenai trust. Mengapa ada anak-anak yang demikian percaya kepada guru renangnya, sehingga mereka bersedia belajar meloncat, atau memasukkan kepala mereka ke dalam air? Namun mengapa sebagian anak tidak mau mengikuti perintah sang guru, dan menangis?
Dalam Bahasa Indonesia, trust dapat diartikan percaya yang mendalam. Ketika kita akan menitipkan uang kita, tentu kita memilih orang yang dapat dipercayai (trustable), dan orang tersebut tentunya bukan orang yang sembarangan. Namun demikian, berapa banyak dari kita yang memikirkan pentingnya trust dalam proses belajar seorang anak?

Baru-baru ini ada seorang ibu yang bercerita kepada saya, bahwa anaknya lebih memilih untuk mengikuti cara yang diajarkan guru di sekolah ketimbang cara yang diajarkannya. Walaupun sang ibu sudah menjelaskan bahwa hasilnya akan sama, anaknya tetap bersikeras untuk mengikuti guru, dan menganggap ibunya salah. Mengapa anaknya lebih mempercayai sang guru?

Seorang ahli perkembangan anak bernama Erickson, pernah mengatakan bahwa basic trust, atau kepercayaan yang mendasar dalam diri anak, merupakan fondasi dari proses perkembangan anak yang sehat secara mental. Mengingat pentingnya trust, bagaimana cara kita mengajarkan trust?

Trust tidak dapat diajarkan. Ia akan tumbuh dengan sendirinya ketika anak merasa aman, dan mengalami bahwa orang dewasa itu (baca: orang tua dan guru) dapat diandalkan. Bahwa kita mengerti dan memenuhi kebutuhannya yang masih sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini berkaitan dengan integritas kita sebagai orang tua maupun guru.

Trust dalam diri anak akan tumbuh ketika kata-kata yang kita ucapkan selaras dengan perbuatan dan juga bahasa tubuh kita. Anak-anak dengan kepekaannya dapat menangkap pesan yang tak terucapkan yang kita tampilkan melalui sorot mata dan bahasa tubuh lainnya. Saat mereka menaruh kepercayaannya kepada seseorang, maka mereka akan bersedia mendengarkan penjelasan dan melakukan tugas-tugas yang diberikan. Saat itulah berlangsung proses belajar yang menyenangkan. Apakah kita trustable?

oleh: Rudangta Arianti Sembiring,M.Psi.


Sumber:

Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid I.

Jakarta: Erlangga.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons