Jan 13, 2012

Kata-Kata


Tahun 2012 ini, tepatnya pada tanggal 24 Januari, anak saya akan berusia 6 tahun. Dia anak yang sangat lincah dan enerjik. Sedang sakit sajapun Ia masih saja pengen bergerak atau bermain. Teringat oleh saya, saat senggang saya tiba, salah satu permainannya, dan tentu saja saya diajak dalam permainannya, adalah Ia berperan menjadi orang bisu dan saya dimintanya untuk menebak perilaku yang diperagakan melalui komunikasi non verbalnya. Tanpa kesulitan pesan yang Ia tampilkan dapat saya tebak. Namun agar terkesan seru buatnya, seringkali saya berpura-pura kesulitan untuk menebak dan menyerah tidak tahu yang dimaksudkannya. Ia sangat gembira sekali dengan situasi “kekalahan” saya itu dan karenanya permainan itu dilakukannya berulang-ulang (dengan hipotesis saya kalah lagi). Sesekali sih saya bisa maklum dengan permintaannya itu, namun lama kelamaan bosan juga, dan saya menyatakan terus terang kepadanya bahwa saya bosan dan menyarankannya untuk berganti permainan. Mulanya dia sulit menerima pernyataan kebosanan saya (ekspresi tidak senang darinya dan pertanyaan mengapa?), tapi sekarang Ia sudah sangat bisa menerimanya.
Pengalaman saya di atas, memberi saya beberapa poin perenungan:

Kapan sebaiknya kita mengirim anak untuk mulai masuk sekolah dasar?

Proses belajar di tahap taman kanak-kanak (TK) memang berbeda dengan di tahap sekolah dasar (SD). Di TK, porsi bermain lebih mendominasi, namun di manapun di seluruh dunia ini, SD selalu menuntut prestasi akademis dari siswa.

Nilai rapor menjadi tolok ukurnya.   
Untuk itu, diperlukan kondisi fisik dan psikis dari anak yang cukup matang untuk mencapainya. Kondisi psikis yang dimaksud salah satunya adalah kemampuan berkonsentrasi.
Bayangkan, apa yang akan terjadi  jika anak belum siap untuk berkonsentrasi pada gurunya? Anak akan mengobrol, berjalan-jalan di kelas, atau bermain di mejanya. Anak tidak akan merasa terbeban jika tidak mengerjakan tugas atau jika mendapat nilai yang tidak memuaskan orang tua.  Akibatnya anak mendapat teguran dan orangtua dipanggil.

Nov 10, 2011

Dampak Kekerasan Verbal Terhadap Anak

http://artikelilmupsikologi.wordpress.com/page/4/
"Berbagai bentuk ucapan yang bertujuan menyakiti anak akan berpengaruh kepadanya. Baik dalam kehidupan saat ini maupun di masa yang akan datang." Selanjutnya dapat dibaca di Okezone

Nov 3, 2011

Membentuk Anak Agar Tampil Berani

sumber gambar: Klik disini
Menurut Rudangta Arianti Sembiring, M.Psi, pola asuh yang tepat untuk anak yaitu dengan cara melihat kebutuhan masing-masing anak. Artikel selanjutnya dapat dibaca di Okezone (klik disini)

Menguak Peran Wanita dalam Perekonomian Keluarga

sumber gambar: di sini
"Karena tingkat pendidikan saat ini lebih tinggi, maka variasi pekerjaan yang dapat dilakukan kaum wanita itu pun lebih banyak. Mulai dari politikus, ekonom, hingga pekerjaan sebagai artis. Selain itu, wanita lebih memilih bekerja untuk mendapat status sosial.".. Lebih lengkap bisa dibaca di link Okezone

Oct 19, 2011

Review Workshop Anak Berkebutuhan Khusus

Pada tanggal 21 Juli 2011, saya mewakili Lembaga Psikologi THEra mengikuti Workshop Terapi Okupasi. Workshop yang dilaksanakan di Semarang tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada orang tua mengenai penanganan anak dengan kebutuhan khusus.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons